AS, Inggris Menyatakan Keprihatinan dengan Pertikaian di Myanmar

Rifan FinancindoRifan Financindo – Para anggota milisi yang menentang kudeta militer Myanmar pada Minggu (16/5) mundur ke hutan di Myanmar barat, setelah pertempuran berhari-hari dengan militer.

Mindat, kota berpenduduk sekitar 40.000 orang di negara bagian Chin, telah menjadi pusat gerakan sipil terhadap pemerintah militer, yang merebut kekuasaan dalam kudeta 1 Februari.

Sebagian warga Mindat telah mendirikan Pasukan Pertahanan Chinland (CDF). Kelompok itu mengatakan dalam pernyataan pada Minggu (16/5) bahwa enam anggotanya dibunuh oleh junta. Setelah pertempuran tiga minggu, militer kini memerangi warga setempat. Namun, para pejuang mundur setelah serangan berhari-hari yang dilakukan oleh tentara tempur militer yang didukung artileri.

Sejumlah pasukan keamanan tewas, dan lainnya dilaporkan hilang setelah serangan di Mindat, kata TV Myawaddy yang dikontrol militer pada Sabtu (15/5). BBC melaporkan bahwa sebagian penduduk Mindat telah mengungsi, sementara yang lainnya terjebak di dalam kota.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah memperkirakan bahwa militer telah menewaskan lebih dari 780 orang sejak kudeta. Militer membantah angka itu. Sejak kudeta yang menggulingkan pemerintahan terpilih, militer telah memutus sambungan internet dan telepon secara berkala di seluruh negara itu. Langkah itu membuat organisasi HAM dan media kesulitan mengonfirmasi jumlah korban tewas.

Kedutaan AS dan Inggris di Myanmar mengeluarkan pernyataan yang mengkhawatirkan keselamatan warga sipil di Mindat.

“Penggunaan senjata perang oleh militer terhadap warga sipil, termasuk pekan ini di Mindat, semakin memperlihatkan sejauh apa langkah yang akan dilakukan rezim untuk mempertahankan kekuasaan,” kata Kedutaan AS di Myanmar lewat Twitter pada Minggu (16/5).

The military’s use of weapons of war against civilians, including this week in Mindat, is a further demonstration of the depths the regime will sink to to hold onto power. We call on the military to cease violence against civilians.

— U.S. Embassy Burma (@USEmbassyBurma) May 15, 2021

“Serangan terhadap warga sipil ilegal dan tidak dapat dibenarkan,” cuit Kedutaan Inggris di Myanmar pada Minggu (16/5).

Sumber : VOA

Baca Juga : Saham Jepang Hapus Keuntungan Awal Pada Sesi Break

Rifan Financindo – Saham Jepang menghapus kenaikan awal dan turun tipis pada hari Senin, karena kekhawatiran tentang peluncuran vaksinasi domestik yang lambat membebani sentimen, dengan indeks kelas berat termasuk Tokyo Electron Ltd yang memimpin penurunan.

Rata-rata saham Nikkei kehilangan 1,18 %% menjadi 27.753,83 pada 0235 GMT, setelah naik sebanyak 0,8% di awal sesi, sementara Topix turun tipis 0,36% menjadi 1.876,62.

Pemasok pembuat peralatan pembuat chip Tokyo Electron turun 3,68%, menjadi hambatan terbesar di Nikkei.

Kelas berat lainnya juga melemah, dengan SoftBank Group kehilangan 1,13% dan Fast Retailing, operator of Uniqlo clothing stores, turun 1,9%.

Pada hari Jumat, Jepang memperluas lagi keadaan darurat ke tiga prefektur dalam langkah mengejutkan yang mencerminkan kekhawatiran yang berkembang tentang penyebaran virus corona.(mrv)

Sumber : Reuters

Rifan Medan