Investor Masih Menunggu Sinyal Terbaru, Dolar Menguat Terhadap Yen

PT RIFAN FINANCINDO -?RIFAN FINANCINDOYen melemah terhadap dolar dan euro selama perdagangan Asia Jumat ini pasca reli didekat dengan level tertingginya pasca Brexit awal pekan ini, dengan kurangnya isyarat baru dalam perdagangan membuat perdagangan tersebut tanpa arah.

Mata uang AS berada di 100,30 yen dari? 99,87 yen Kamis malam di New York. Greenback menyentuh intraday tertingginya di 100,44 yen sebelumnya di sesi menjelang siang, namun gagal meningkat lebih lanjut.

Euro naik ke 113,87 yen sebelum memangkas sedikit keuntungannya ke 113,81 yen pada tengah hari. Mata uang umum berada di? 113,44 yen Kamis malam.(mrv)

Sumber: MarketWatch

BACA JUGA :?Saham Jepang Turun Tipis Pada Volume Lemah di Sesi Break Perdagangan

PT RIFAN FINANCINDO -?RIFAN FINANCINDOSaham Jepang jatuh pada perdagangan tipis, menghapus keuntungan sebelumnya, terkait perusahaan telekomunikasi dan saham farmasi yang paling membebani pada indeks ekuitas acuan.

Indeks Topix turun 0,1 persen ke 1,289.45 pada istirahat perdagangan di Tokyo setelah sebelumnya naik sebanyak 0,7 persen, dengan volume sebesar 15 persen di bawah rata-rata intraday 30-harinya. Indeks ?turun 2,6 persen minggu ini. Nikkei 225 Stock Average juga kehilangan 0,1 persen. Yen turun 0,3 persen ke 100,19 dolar setelah lima hari keuntungan yang membawa perdagangan mata uang Jepang mendekati level terkuatnya sejak November 2013.(mrv)

Sumber: Bloomberg

BACA JUGA :?Saham Asia Naik Didorong Gain Pada Saham Energi, Topix Jepang Menguat

PT RIFAN FINANCINDO -?RIFAN FINANCINDOSaham Asia naik karena produsen energi menguat setelah minyak memasuki bull market dan saham Jepang menguat pasca stabilnya yen setelah menyentuh angka 100 terhadap dolar.

Indeks MSCI Asia Pacific naik 0,2 persen ke 139,59 pada 09:04 pagi di Tokyo, memangkas penurunan selama sepekan ke 0,3 persen. Indeks Topix Jepang naik 0,4 persen karena yen diperdagangkan pada 100,14 terhadap dolar. Saham Asia telah mengalami reli sebesar 24 persen dari terendahnya di bulan Februari terkait data yang lesu dari ekonomi terbesar dunia sehingga memicu spekulasi bahwa bank sentral akan terus mendukung mereka dengan stimulus dan kebijakan moneter yang longgar. Risalah pertemuan The Fed yang dirilis Rabu menunjukkan bahwa pejabat melihat sedikit risiko kenaikan tajam inflasi, membantu mendorong kemungkinan naiknya tingkat suku bunga pada tahun ini kembali di bawah 50 persen.(mrv)

Sumber: Bloomberg

 

Rifan Medan