Minyak Raih Gain Setelah Persediaan AS Menurun dan Saudi Pangkas Output

Rifan Financindo – Rifan FinancindoMinyak mengalami kenaikan dekati level $ 54 per barel setelah stok minyak mentah AS menurun lebih dari perkiraan dan Arab Saudi bergabung dengan anggota OPEC lainnya dalam memangkas produksinya untuk menstabilkan pasar.

Kontrak sedikit berubah di New York setelah naik 0,9 persen pada hari Kamis. Persediaan minyak mentah AS turun 7.050.000 barel pada pekan lalu, menurut laporan pemerintah. Perkiraan rata-rata dalam survei Bloomberg memprediksi penurunan sebanyak 2 juta barel. Arab Saudi akan memenuhi pengurangan output negara yang melakukan hal yang sama, kata seseorang yang mengetahui kebijakan Saudi yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena masalah pribadi.

Harga minyak pada tahun lalu ditutup raih gain tahunan terbesar sejak 2009 seiring Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan 11 negara dari luar kelompok setuju pada rencana untuk mengurangi produksi. Sementara pemasok termasuk Kuwait, Irak dan Oman mengatakan mereka sudah mulai mengurangi output, peningkatan volume dari negara-negara seperti Libya – dibebaskan dari pengurangan – bisa menekan negara lain.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari berada di level $ 53,80 per barel di New York Mercantile Exchange, naik 4 sen, pada pukul 07:17 pagi waktu Hong Kong. Total volume perdagangan sekitar 64 persen di bawah 100-hari rata-rata. Kontrak tersebut menguat 50 sen ke level $ 53,76 pada hari Kamis. Harga minyak WTI meningkat 0,2 persen selama minggu ini, ditetapkan untuk kenaikan mingguan keempat.

Brent untuk pengiriman Maret naik 43 sen atau 0,8 persen, ke level $ 56,89 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London, Kamis. Minyak mentah acuan global mengakhiri sesi dengan premi sebesar $ 2,21 hingga Maret untuk minyak WTI. (knc)

Sumber : Bloomberg

BACA JUGA : Milisi Pro-Pemerintah Irak Gunakan Senjata Bantuan untuk Lakukan Kejahatan

Rifan Financindo – Sebuah laporan Amnesty International yang dilansir, Kamis (5/1) menyebutkan milisi-milisi yang bersekutu dengan pasukan Irak melakukan kejahatan perang dengan senjata yang diberikan untuk militer Irak oleh sedikitnya 16 negara, termasuk Amerika, Rusia dan Iran.

Organisasi HAM itu menyatakan milisi-milisi yang didominasi Muslim Syiah itu secara bersama dikenal sebagai Hashid Shaabi. Amnesty menyatakan mereka melakukan kejahatan perang seperti pembunuhan sewenang-wenang dan penyiksaan, menggunakan senjata dari persediaan militer Irak, sebut kelompok itu.

œPemasok senjata internasional, termasuk Amerika, negara-negara Eropa, Rusia dan Iran, harus menyadari fakta bahwa semua kiriman senjata ke Irak berisiko jatuh ke tangan kelompok-kelompok milisi yang punya sejarah pelanggaran HAM, kata peneliti Amnesty Patrick Wilcken dalam suatu pernyataan.

Wilcken menambahkan bahwa negara-negara yang ingin menjual senjata ke Irak harus lebih dulu memberlakukan langkah-langkah ketat guna memastikan milisi tidak dapat menggunakan senjata itu untuk melanggar HAM.

Amnesty menyatakan temuan-temuannya itu didasarkan pada penelitian di lapangan selama 2,5 tahun serta analisis foto dan video. Organisasi ini juga melakukan wawancara dengan puluhan mantan tahanan, saksi mata dan kerabat mereka yang tewas atau hilang.

Seorang juru bicara Hashid Shaabi tidak segera menanggapi permintaan untuk mengomentari laporan tersebut.

Sumber: voaindonesia

Rifan Medan