0

Al-Falih: Kesepakatan OPEC Masih Belum Terpecahkan, Minyak Menguat

Rifan Financindo – Rifan FinancindoMinyak stabil menyusul kenaikan dua hari tertajamnya sejak Juni karena investor mengkaji apakah OPEC dan sekutunya akan memangkas produksi dalam pertemuan di Wina pekan ini.

Minyak berjangka di New York menghapus penurunan sebelumnya sebanyak 2,1%. Menteri Energi Saudi, Khalid Al-Falih berkata masih “prematur” untuk mengatakan apakah kelompok produsen akan menyepakati upaya untuk menstabilkan pasar dari kelebihan pasokan serta kembali pada pernyataan terbaru mengenai ukuran pengurangan pasokan. Sementara itu, pelabuhan minyak Libya dikatakan ditutup karena cuaca buruk.

Minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Januari turun sebanyak $ 1,09 hingga $ 52,16 per barel di New York Mercantile Exchange, dan berada di level $ 53,17 pada 11:22 pagi di London. Kontrak berjangka ditutup pada $ 53,25, naik 30 sen, pada hari Selasa. Total volume yang diperdagangkan adalah sekitar 47% di atas rata-rata 100-hari.

Jenis Brent untuk pengiriman Februari turun 16 sen menjadi $ 61,92 per barel di bursa ICE Futures Europe London, setelah naik 39 sen pada Selasa. Acuan minyak mentah global ditransaksikan lebih tinggi sebesar $ 8,52 dibandingkan WTI untuk bulan yang sama.(yds)

Bloomberg

BACA JUGA : Pertumbuhan Dan Perang Perdagangan Menekan Saham Eropa Turun ke 2 Minggu Terendah

Rifan Financindo – Kekhawatiran tentang pasar obligasi AS menandakan resesi yang akan datang, dan perang perdagangan yang masih meningkat antara dua ekonomi teratas dunia, melihat saham Eropa turun lebih jauh pada hari Rabu setelah penurunan 3 persen di Wall Street pada hari sebelumnya.

Indeks Pan-Eropa STOXX 600 berakhir turun 1,2 persen ke level 354.27 pada level terendahnya sejak 23 November lalu. Indeks saham zona euro dan DAX Jerman juga merosot 1,2 persen. Pasar saham AS ditutup pada hari Rabu untuk hari berkabung untuk menghormati mantan presiden George H.W. Bush yang meninggal dunia pada minggu lalu.

Sektor Cyclical seperti konstruksi dan penambang mencatat penurunan terbesar, turun 2,2 dan 1,8 persen, karena investor membuang saham yang sangat sensitif terhadap pertumbuhan ekonomi. (knc)

Sumber : Reuters

Rifan Medan

Tinggalkan Balasan