Dolar Anjlok ke Level Terendah 6 Pekan, Bitcoin Stabil

Rifan Financindo

Rifan Financindo – Dolar merosot ke level terendah enam pekan terhadap mata uang utama pada hari Senin (20/4), dengan imbal hasil Treasury mendekati level terendah dalam lima pekan, setelah Federal Reserve AS menegaskan kembali pandangannya bahwa setiap lonjakan inflasi kemungkinan bersifat sementara.

Dolar juga tertahan karena membaiknya sentimen risiko di tengah reli saham global ke rekor tertinggi.

Bitcoin stabil pasca penurunan dari hari Minggu, ketika jatuh sebanyak 14% menjadi $51.541, yang menurut laporan dikaitkan dengan berita pemadaman listrik di China.

Indeks dolar, yang menelusurinya terhadap enam mata uang lainnya, turun ke 91,079, tidak jauh dari terendah pekan lalu di 91,484, level yang tidak terlihat sejak 18 Maret.

Anjloknya greenback diumumkan secara menyeluruh pada hari Senin, dengan mata uang tersebut menyentuh posisi terendah multi-pekan terhadap mata uang utama dalam kelompok mata uang G10: yen Jepang, franc Swiss, dolar Australia dan dolar Selandia Baru, dan euro.

Imbal hasil Treasury dengan tenor 10-tahun merosot serendah 1,5280% pekan lalu dari 1,7760% pada akhir bulan lalu, level tertinggi dalam lebih dari setahun terakhir.

Bitcoin stabil di sekitar $57.000 setelah jatuh pada hari Minggu.(yds)

Sumber: Reuters

Baca Juga : Kasus COVID-19 Lampaui 15 Juta, New Delhi Berlakukan ‘Lockdown’

Rifan Financindo – 

Para pejabat New Delhi mengumumkan lockdown selama satu pekan pada hari Senin (19/4), sementara lonjakan kasus COVID-19 membuat sistem kesehatan di ibu kota India itu kewalahan.

Menteri Utama Delhi Arvind Kejriwal mengatakan “sistem kesehatan kini tidak mampu menerima pasien dalam jumlah besar.”

Kejriwal mengatakan lockdown diperlukan untuk mencegah situasi di mana orang-orang “sekarat di jalan-jalan.”

Menurut data dari Kementerian Kesehatan India hari Senin (19/4), Delhi melaporkan 25.462 kasus dan 161 kematian dalam 24 jam terakhir.

Secara keseluruhan India melaporkan 273.810 kasus baru pada hari Senin (19/4), angka harian tertinggi sejak awal pandemi dan India kini telah mencatat lebih dari 15 juta kasus, terbanyak kedua setelah AS.

Kementerian Kesehatan juga melaporkan 1.619 kematian akibat COVID-19 dalam 24 jam terakhir, membuat totalnya menjadi 178.769.

India mencatat jumlah kematian tertinggi keempat setelah AS, Brazil dan Meksiko, meskipun dengan populasi hampir 1,4 miliar orang, India memiliki populasi jauh lebih besar daripada negara-negara tersebut.

Membubungnya jumlah kasus dan kematian terjadi hanya beberapa bulan setelah India mengira telah mengalami titik terburuk pandemi. Tetapi para pakar menyatakan data ketika itu kemungkinan besar karena yang dilaporkan lebih rendah daripada angka sesungguhnya.

Langkah pembatasan serupa telah diberlakukan di negara bagian yang terpukul paling parah, Maharashtra, di mana Mumbai, ibu kota keuangan India berada. Penutupan sebagian besar industri, bisnis dan tempat-tempat umum mulai Rabu malam lalu akan berlangsung selama 15 hari.

Sumber: VOA

Rifan Medan