Rifan Financindo – Emas Global Melejit, Akankah Harga Antam Ikutan Meroket?

Rifan Financindo – Jakarta, CNBC Indonesia – Harga emas dunia di pasar spot kembali melesat pada perdagangan Kamis malam (3/10/19), setelah rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang sekali lagi buruk.

Pada pukul 21:05 WIB tadi malam, harga emas menguat 1,25% ke level US$ 1.517,98/troy ons di pasar spot, berdasarkan data Refinitiv.

Data yang dirilis oleh Institute fo Supply Management (ISM) beberapa saat lalu menunjukkan angka Purchasing Managers’ Index (PMI) sektor jasa melambat menjadi 52,6 di bulan September, dari sebelumnya 56,4. Ini menjadi data buruk ketiga yang dirilis AS, dan semakin membuat pelaku pasar cemas jika ekonomi AS mendekati resesi.


Sebelumnya pada hari Selasa lalu Institute fo Supply Management melaporkan angka Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur AS periode September berada di 47,8. Turun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 49,1.

Indeks ini menggunakan angka 50 sebagai ambang batas, di bawah 50 artinya kontraksi yakni aktivitas sektor manufaktur semakin menyusut, sementara di atas 50 berarti ekspansi atau peningkatan aktivitas.

Kontraksi yang dialami sektor manufaktur AS di bulan September tersebut merupakan yang terdalam sejak satu dekade terakhir, tepatnya sejak Juni 2009 ketika resesi AS 2007-2009 berakhir.

Rabu kemarin giliran Automatic Data Processing Inc (ADP) melaporkan pelemahan pasar tenaga kerja AS. Sepanjang bulan September ekonomi AS dilaporkan menyerap 135.000 tenaga kerja di luar sektor pertanian. Data tersebut lebih rendah dari bulan Agustus sebanyak 157.000 tenaga kerja.

Isu resesi di AS diperparah dengan potensi perang dagang AS dengan Uni Eropa. Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) memenangkan gugatan AS yang menyebut Uni Eropa memberikan subsidi kepada Airbus sehingga menimbulkan persaingan tidak sehat dengan perusahaan pembuat pesawat lainnya seperti Boeing.

“Bea impor yang diterapkan Trump ke Uni Eropa menciptakan sejumlah ketidakpastian yang tinggi dan berpotensi memicu kejatuhan ekonomi” kata John Meyer, analis dari SP Angel, sebagaimana dilansir CNBC International.

“Ini semua menunjukkan tekanan di pasar dan resesi sepertinya tidak terhindarkan” tegas Meyer.

Perang dagang dengan China sudah membuat ekonomi AS merosot sedemikian dalam, memaksa bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) memangkas suku bunga sebanyak dua kali di tahun ini, dan kemungkinan masih akan ada pemangkasan lagi.

Jika sampai dikeroyok China dan Uni Eropa, AS benar-benar terancam mengalami resesi.

Berdasarkan survei US National Association for Business Economics (NABE) yang melibatkan 226 institusi, 42% responden memperkirakan AS akan mengalami resesi pada Februari 2020.

Ketidakpastian ini membuat investor melirik kembali aset-aset aman alias safe haven sehingga harga kembali melesat.

Rifan Medan