0

Harga Minyak Sedikit Melemah Setelah Keuntungan 2% Semalam

Rifan FinancindoRifan Financindo – Harga minyak diperdagangkan sedikit lebih rendah pada hari Jumat di Asia. Naik 2% pada sesi sebelumnya.

Minyak Mentah West Texas Intermediate (WTI) Berjangka AS tergelincir 0,1% menjadi $$ 52,47 pada pukul 12:18 pagi waktu timur AS (04:15 GMT). Sementara minyak mentah International Brent Berjangka juga turun 0,2% menjadi $ 57,27.

Mengutip dari seorang pejabat minyak Saudi, Reuters melaporkan hari ini bahwa Arab Saudi berencana untuk mempertahankan ekspor minyak mentahnya di bawah 7 juta barel per hari pada Agustus dan September.

Berita itu mengikuti laporan Bloomberg kemarin yang mengatakan kerajaan tidak akan mentolerir penurunan tajam harga minyak dan terbuka untuk semua opsi untuk menghentikan penurunan lebih lanjut.

Data China yang optimis juga dikutip sebagai penarik untuk pasar minyak, yang melonjak 2% di sesi sebelumnya sebelum memberikan kembali beberapa kenaikan mereka hari ini.

Data pabean pada Kamis menunjukkan bahwa ekspor China dalam mata uang dolar naik 3,3% dari tahun lalu. Itu dibandingkan dengan penurunan yang diharapkan sebesar 2,0%. Impor selama bulan tersebut turun 5,6%, lebih rendah dari penurunan yang diperkirakan sebesar 8,3%. (Tgh)

Sumber: Investing.com

BACA JUGA : Saham China mengalami pekan terburuk sejak Mei seiring pelemahan data pabrik

Rifan Financindo – Saham China berakhir melemah pada jumat, membalikan kenaikan pada sesi sebelumnya dan membukukan penurunan mingguan terbesar sejak awal Mei, seiring pelemahan pada data pabrik dan dibebani oleh masih adanya kekhawatiran perdagangan.

Indeks CSI300 blue-chip turun 1,0%, ke level 3.633,53, sedangkan Indeks Shanghai Composite melemah 0,7% ke level 2.774,75.

Untuk pekan ini, Saham CSI300 turun 3%, sementara Saham SSEC turun 3,2%, keduanya mencatat penurunan mingguan tertajam dalam tiga bulan.

Harga pabrik China menyusut untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pada bulan Juli, memicu kekhawatiran deflasi dan memberikan tekanan pada Beijing untuk memberikan lebih banyak stimulus saat ekonomi melemah di tengah perang dagang yang semakin intensif dengan Amerika Serikat. (Tgh)

Sumber: Reuters

Rifan Medan

Tinggalkan Balasan