1

Keuntungan Teknologi Melebihi Imbal Hasil Cina, Saham Asia Naik Tipis

Rifan Financindo – Rifan FinancindoSaham-saham Asia naik tipis pada sesi kedua karena reli dalam saham teknologi AS mendukung kenaikan di Taiwan dan Korea Selatan, mengimbangi pasar yang lebih lemah di Cina dan Jepang.

Indeks MSCI Asia Pacific naik 0,3 persen menjadi 167,78 pada pukul 11.04 siang di Hong Kong. Taiex Taiwan naik, memangkas penurunan dua hari berturut-turut, sementara Kospi Korea Selatan siap untuk mendekati rekor tertinggi saat saham teknologi menguat menyusul sebuah reli di Nasdaq 100 pada hari Jumat.

Pasar saham Cina merosot, dengan Shanghai Composite turun tajam dalam hampir tiga bulan terakhir dan Shenzhen Composite turun tajam dalam hampir empat bulan terakhir di tengah penjualan pasar obligasi. Saham-saham Jepang berayun ke wilayah negatif di tengah menguatnya dolar AS setelah membukukan pertumbuhan kuartalan back-to-back terbaiknya sejak 2014 yang lalu. (frk)

Sumber: Bloomberg

BACA JUGA : Donald Trump ‘uring-uringan’ terkait Hillary Clinton dan penyelidikan Russia

Rifan Financind0 – Presiden AS Donald Trump melontarkan serangkaian cuitan penuh kemarahan mengenai ‘kesalahan’ Hillary Clinton dan partai Demokrat serta penyelidikan tentang dugaan campur tangan Rusia.

Kemarahan Minggu (29/10) pagi diluapkannya di tengah-tengah laporan bahwa Senin (30/10) ini pihak berwenang kemungkinan akan melakukan penahanan pertama terkait kasus kolusi dengan Rusia.

Trump bersikeras bahwa tuduhan kolusi antara tim kampanyenya dan Rusia adalah ‘palsu’ dan tak ubahnya ‘perburuan tukang sihir.’

Donald Trump mengatakan bahwa partai Republik bersatu mendukung di belakangnya, dan menuntut mereka untuk: “BERTINDAKLAH!”

Media memberitakan bahwa dakwaan pertama telah dilaporkan dalam penyelidikan yang dipimpin oleh Robert Mueller atas dugaan intervensi Rusia dalam pemilihan 2016 untuk membantu kemenangan Trump.

Tidak jelas apa isi dakwaan itu dan siapa yang ditargetkan, seperti dilaporkan CNN dan Reuters, yang mengutip narasumber yang tak disebutkan namanya.

Pada Minggu pagi, Trump mengeluarkan serangkaian cuitan berisi kemarahan:

“Tidak pernah melihat partai Republik MARAH & BERSATU seperti ini mengenai kurangnya penyelidikan terhadap Clinton yang membuat berkas palsu (sekarang $12.000.000?),….

“…kesepakatan Uranium ke Russia, 33.000 lebih email yang dihapus, persekongkolan Comey dan banyak lainnya. Mereka justru menyorot kasus kolusi Trump/Russia yang palsu,….

“… yang tidak ada. Demokrat menggunakan ‘perburuan tukang sihir’ yang mengerikan (dan buruk untuk negara kita) ini untuk perminan politik yang jahat, namun para politisi R(epublik)…

“…sekarang melakukan serangan balasan yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. Terlalu banyak KESALAHAN oleh Demokrat/Clinton, dan sekarang fakta bermunculan. BERTINDAKLAH!”

About an hour later he tweeted: “All of this ‘Russia’ talk right when the Republicans are making their big push for historic Tax Cuts & Reform. Is this coincidental? NOT!”

Sekitar satu jam kemudian dia mencuit lagi: “Semua perbincangan soal ‘Rusia’ ini trjadi saat (politikus partai) Republik mendorong (UU) Reformasi dan Pemangkasan Pajak. Apakah ini kebetulan? TIDAK!”

warganet segera bereaksi, menuduh Trump berusaha mengalihkan perhatian dari penyelidikan Rusia dengan berbicara mengenai kurangnya sorotan pada Clinton, lawan politik yang dikalahkannya di pemilihan presiden hampir setahun yang lalu.

Badan intelijen AS telah menyimpulkan bahwa pemerintah Rusia membantu Trump memenangkan pemilihan.

Penyelidikan Mueller mencari kaitan antara Rusia dan tim kampanye Trump. Baik pihak Trump maupun Rusia menyangkal adanya kolusi.

Tim Mueller diketahui telah melakukan wawancara ekstensif dengan beberapa pejabat Gedung Putih terdahulu dan saat ini.

Mueller, mantan direktur FBI, pada Mei lalu ditunjuk oleh departemen kehakiman untuk mengepalai penyelidikan itu, tak lama setelah Trump memecat direktur FBI James Comey.

Trump mengatakan pada Jumat lalu bahwa telah “disepakati bersama” bahwa tidak ada kolusi antara dirinya dan Rusia dan mengatakan bahwa justru ada beberapa kaitan antara Moskow dan Hillary Clinton.

Anggota parlemen dari Partai Republik mengatakan bahwa kesepakatan uranium AS dengan sebuah perusahaan Rusia pada 2010, saat Hillary Clinton menjabat Menteri Luar Negeri, dicapai sebagai imbalan sumbangan untuk lembaga amal suaminya, mantan presiden Bill Clinton.

Sebuah penyelidikan Kongres telah dibuka untuk kasus itu. Demokrat mengatakan itu adalah usaha untuk mengalihkan perhatian dari dugaan hubungan antara Rusia dan Trump.

Sumber: BBC

Rifan Medan