1

Minyak Menuju Pekan Terbaiknya pada Tahun ini Terkait Gejolak di Saudi

Rifan Financindo – Rifan FinancindoMinyak menuju kenaikan mingguan kelima terkait gejolak politik eksportir minyak mentah terbesar di dunia tersebut melawan perluasan output AS ke tingkat tertingginya dalam lebih dari tiga dekade terakhir.

Kontrak berjangka sedikit berubah di New York, naik 2,6 persen dalam sepekan. Penangkapan pada akhir pekan lalu terhadap pejabat senior Arab Saudi dalam menyelidiki anti-korupsi yang dipandang sebagai kekuatan konsolidasi bagi Putra Mahkota Mohammed bin Salman, yang mendukung perluasan pemotongan output OPEC. Sementara harga mereda selama sepekan, rekor produksi minyak AS dan kenaikan stok minyak mentah secara mengejutkan tidak cukup untuk mematok kembali lonjakan sebesar 3,1 persen pada hari Senin.

Harga minyak menuju kenaikan mingguan terpanjangnya sejak Oktober 2016 karena pasokan global lebih diperketat dan pada tanda-tanda Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) akan memperluas jalur produksi menjelang akhir Maret. OPEC minggu ini mengatakan produksi serpih AS akan tumbuh jauh lebih cepat dari perkiraan selama empat tahun ke depan setelah pemangkasan tersebut memicu pemulihan harga.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember berada di level $ 57,11 per barel di New York Mercantile Exchange, turun 6 sen, pada pada 1:31 siang waktu Hong Kong. Total volume yang diperdagangkan sekitar 64 persen di bawah rata-rata 100 hari. Harga naik 36 sen ke level $ 57,17 pada hari Kamis.

Brent untuk pengiriman Januari turun 10 sen menjadi $ 63,83 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Harga melonjak sebesar 2,8 persen pada minggu ini, untuk menuju kenaikan mingguan kelima. Minyak mentah acuan global berada pada premium $ 6,49 sampai Januari untuk minyak WTI. (knc)

Sumber : Bloomberg

BACA JUGA : RBA Melihat Pertumbuhan yang Solid, Melambatnya Inflasi Karena Tingkat Suku Bunga Tetap Bertahan

Rifan Financindo – Bank sentral Australia menggunakan Pernyataan Kebijakan Moneter untuk menyempurnakan pandangan barunya yang konsisten mengenai percepatan pertumbuhan dan inflasi yang lamban, menunjukkan tingkat suku bunga akan tetap pada rekor rendah 1,5 persen.

Inflasi tertahan oleh pertumbuhan upah yang rendah, persaingan ritel dan cadangan di pasar tenaga kerja meskipun perekrutan baru-baru ini kuat; Inflasi inti tahunan hanya akan mencapai 2 % di tahun 2019.

Pertumbuhan PDB Triwulanan sedikit menurun pada kuartal ketiga, kemudian rata-rata sekitar 3 % selama beberapa tahun ke depan, dipimpin oleh ekspor sumber daya dan investasi bisnis yang lebih positif.

Konsumsi rumah tangga kemungkinan melambat pada kuartal ketiga setelah data ritel yang lemah; Pertumbuhan pendapatan yang rendah dan tingkat hutang yang tinggi merupakan kendalanya.

Kondisi pasar tenaga kerja telah “diperkuat secara signifikan” dan indikator ke depan menunjukkan “pertumbuhan lapangan kerja di atas rata-rata” akan berlanjut.

RBA melihat implikasi bobot CPI yang sudah lampau: “bank memperkirakan bahwa prasangka substitusi telah mencapai sekitar 0,4 poin persentase untuk inflasi CPI yang berakhir pada triwulan kedua 2017.” (knc)

Sumber : Bloomberg

Rifan Medan

One Comment

Tinggalkan Balasan