1

Pierre Lasonde: Bull Market Emas ‘Sesungguhnya’ akan Datang

Rifan Financindo – Rifan FinancindoHarga emas hanya akan bergerak ke atas, naik setinggi level $ 1.400 tahun depan, namun Bull Market “sebenarnya” tidak akan berjalan sampai terjadi kenaikan inflasi yang nyata, kata tokoh pertambangan Pierre Lassonde.

“Untuk emas bisa masuk ke bull market yang ˜nyata™ selanjutnya kita butuh tanda-tanda dari inflasi. Sejauh ini kita belum melihat hal tersebut, “kata pimpinan Franco-Nevada kepada surat kabar Jerman Finanz and Wirtschaft.

“Federal Reserve dan bank sentral lainnya telah menumpuk cadangan yang sangat besar. Tapi tidak ada inflasi karena uang itu tetap berada di dalam bank dan mereka tidak meminjamkannya. Karena itu, Anda tidak bisa mendapatkan efek multiplier dari hal tersebut. ”

Namun, inflasi bisa segera berakselerasi, dengan rekonstruksi keduanya menyusul kerusakan yang diakibatkan oleh badai Irma dan Harvey di AS serta pemulihan di Eropa yang memindahkan jarum ke arah yang benar, katanya.

Tahun ini, Lassonde melihat harga tetap berada di antara kisaran $ 1.250-1.350 dan kemudian naik hingga level $ 1.400 per ounce tahun depan.

Satu-satunya arah untuk emas kemungkinan akan menunjukkan arah ke atas, kata Lassonde dalam wawancara, memperingatkan bahwa produksi yang terus menurun, memberikan dorongan ke atas pada logam kuning ini.

“Jika Anda melihat dalam 15 tahun terakhir, kita hanya menemukan deposit sebesar 15 juta ons. Jadi, di mana simpanan besar yang kita temukan di masa lalu? Bagaimana mereka akan diganti? Kita tidak tahu. Kita tidak memiliki badan bijih (ore bodies) tersebut dalam penglihatan kita, “katanya.

Salah satu alasannya yakni karena tidak adanya cukup banyak uang untuk eksplorasi, Lassonde mengatakan.

“Masalahnya dengan industri ini adalah Anda harus memiliki kesabaran yang luar biasa dan Anda harus punya uang. Dan sekarang, sulit mendapatkan uang. Risiko selera investor sudah bertahun-tahun lamanya berlalu, “katanya. (sdm)

Sumber: Kitco News

BACA JUGA : Presiden Turki Erdogan Kecam AS

Rifan Financindo – Sementara diplomat-diplomat Amerika dan Turki melanjutkan pembicaraan guna menyelesaikan perselisihan tentang larangan visa baru-baru ini, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan meningkatkan retorikanya terhadap Amerika. Hubungan bilateral diperkirakan semakin tegang dengan adanya kasus pengadilan mengenai sanksi terhadap Iran yang melibatkan warga Turki.

Presiden Erdogan hari Minggu (22/10) melancarkan serangan tajam terhadap negara-negara Barat yang merupakan sekutu Turki.

Erdogan mengatakan, Turki akan menghormati aliansi strategis dengan mitranya asalkan negara-negara itu menghormati undang-undang. Turki menuduh beberapa mitranya di NATO berkomplot melawannya dan menawarkan perlindungan bagi orang-orang yang dituduhnya terlibat kudeta tahun lalu.

Erdogan secara khusus menarget Amerika. Ia mengatakan, œAmerika katanya adalah tempat lahir demokrasi. Ini tidak mungkin benar, (apa yang terjadi) ini bukan demokrasi.

Menurut Erdogan, jika Amerika mengeluarkan surat perintah penangkapan bagi 13 pengawalnya di negara yang didatanginya atas undangan, ia meminta maaf karena akan menyatakan bahwa negara tersebut tidak beradab.

Jaksa Amerika menuduh pengawal Erdogan menyerang pemrotes damai di luar kedutaan besar Turki saat Erdogan berkunjung ke Washington Mei lalu. Serangan tajam presiden Turki itu terjadi ketika diplomat kedua negara melanjutkan upaya menyelesaikan larangan visa yang diberlakukan kedua negara.

Amerika menerapkan pembatasan visa menyusul penangkapan dua pegawai lokal misi diplomatiknya di Turki atas tuduhan terorisme. Langkah itu membuat Turki membalas dengan juga menerapkan pembatasan visa.

Departemen Luar Negeri Amerika menilai produktif pembicaraan hari Kamis.

Kolumnis politik Semih Idiz dari situs Al Monitor mengatakan, retorika Erdogan yang semakin tajam terhadap Amerika harus dilihat dalam konteks yang lebih luas mengenai pentingnya hubungan bilateral kedua pihak.

“Erdogan pandai menyampaikan kata-kata tajam pada saat tak terduga dan sensitif. Tetapi kita harus ingat bahwa Erdogan baru-baru ini ke New York dan mengadakan pertemuan yang sangat akrab dengan Donald Trump yang menyebutnya teman istimewa. Jadi, Turki tahu semua masalahnya dengan Amerika, dan tahu bahwa itu harus dilakukan dengan hati-hati,” kata Idiz.

Pengamat berpendapat retorika keras Erdogan antara lain dimotivasi oleh politik dalam negeri. Sikap keras anti-Amerika sejalan dengan nasionalis Turki yang dipersiapkan Erdogan untuk pemilihan presiden dan pemilu 2019.

Dukungan Amerika yang berkelanjutan terhadap milisi Kurdi Suriah yang memerangi ISIS, juga terus membuat Turki marah, menuduh milisi tersebut terkait pemberontakan bersenjata di Turki.

Sumber: voaindonesia

Rifan Medan