Tekanan Berlanjut, Emas Jatuh Di Bawah $ 1.900

Rifan Financindo – Tekanan untuk emas belum selesai. Harga jatuh di bawah $ 1.900 per ons pada hari Selasa, memperpanjang kemerosotan logam mulia ke hari kedua setelah aset haven tersebut turun lebih dari 5% di sesi pembukaan minggu ini.Rifan Financindo

Setelah mencetak rekor di atas $ 2.000 per ons minggu lalu, reli emas terhenti saat menguatnya imbal hasil obligasi AS, mengurangi daya tarik emas. Penurunan cepat mengikuti arus keluar kecil dari dana yang diperdagangkan di bursa yang didukung emas, dan berjalan 15 hari di wilayah overbought untuk indeks kekuatan relatif.

Emas spot merosot sebanyak 2,1% menjadi $ 1.872,61 per ons dan diperdagangkan di $ 1.883.29 pada 10:11 pagi di Singapura. Emas berjangka juga jatuh di Comex, sementara perak turun tajam.(mrv)

Sumber: Bloomberg

BACA JUGA : Presiden Putin: Rusia Negara Pertama yang Resmi Setujui Vaksin untuk Virus Corona

Rifan Financindo – Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan negaranya menjadi negara pertama di dunia yang secara resmi menyetujui vaksin baru Covid-19, terlepas dari kurangnya data untuk mendukung klaimnya bahwa vaksin itu aman untuk diberikan pada manusia.

Putin mengumumkan perkembangan itu dalam pertemuan dengan menteri-menteri pemerintahnya pada hari Selasa (11/8), yang ditayangkan langsung oleh televisi pemerintah.

œSaya tahu ini bekerja efektif, vaksin ini membentuk imunitas yang stabil, kata Putin mengenai vaksin baru yang dikembangkan oleh Gamaleya Institute, Moskow. Ia mengatakan vaksin itu telah menjalani œsemua pemeriksaan yang diperlukan untuk memastikan keamanannya.

Putin menambahkan, putrinya sendiri telah divaksinasi pada tahap-tahap pengujian awal. Presiden Rusia itu mengatakan putrinya mengalami demam ringan pada hari pertama, tetapi suhu tubuhnya turun menjadi normal pada hari berikutnya.

Produksi vaksin baru Rusia itu, yang disebut Sputnik V, untuk menghormati satelit buatan manusia pertama dunia yang ketika itu diluncurkan oleh Uni Soviet pada tahun 1957, akan dimulai bulan depan. Vaksinasi massal akan dimulai sedini bulan Oktober. Pihak berwenang Rusia telah menyatakan bahwa petugas medis, guru dan kelompok berisiko lainnya akan menjadi yang pertama divaksinasi. Deputi PM Tatyana Golikova mengatakan vaksinasi para dokter akan dimulai sedini bulan ini.

Vaksin baru itu adalah satu dari 100 lebih vaksin potensial yang sedang dikembangkan dalam perlombaan oleh berbagai negara dan perusahaan biomedis untuk menghentikan pandemi virus corona. Menurut pelacak virus corona Johns Hopkins University, virus tersebut telah menjangkiti lebih dari 20 juta orang dan menewaskan lebih dari 736 ribu orang.

Vaksin Rusia itu tidak termasuk di antara sedikit vaksin yang mencapai fase tiga dan terakhir pengujian pada manusia, yang biasanya melibatkan ribuan orang dan berlangsung berbulan-bulan, sebut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Para ilmuwan di dalam dan luar Rusia telah mempertanyakan langkah untuk mendaftarkan vaksin itu sebelum uji coba tahap 3 tuntas.

Para kritikus menyatakan hal ini bisa membahayakan pasien, serta menyebabkan perasaan aman palsu atau merusak kepercayaan terhadap vaksinasi.

Rusia juga dituduh oleh AS, Inggris dan Kanada menggunakan peretas untuk mencuri riset vaksin dari laboratorium di negara-negara tersebut.

Pengumuman Putin itu muncul sementara perusahaan bioteknologi berbasis di China, Sinovac, telah meluncurkan uji coba tahap akhir pada manusia bagi vaksin Covid-19 potensial di Indonesia. Vaksin yang disebut CoronaVac itu akan diberikan kepada 1.620 sukarelawan untuk diuji keamanan dan keampuhannya. Indonesia adalah negara ke-dua di mana Sinovac melakukan uji coba tahap akhir.

Sinovac telah meluncurkan uji coba tahap akhir CoronaVac di Brazil, yang mencatat lebih dari 3 juta kasus virus corona terkonfirmasi dan 101.752 kematian, membuatnya berada di tempat kedua di belakang AS dalam kedua kategori itu. Indonesia, negara berpenduduk terbanyak keempat di dunia, melaporkan lebih dari 127 ribu kasus dan 5.765 kematian.

Sinovac dalam waktu dekat mungkin akan memulai tahap akhir uji coba CoronaVac pada manusia di Bangladesh. Perusahaan itu tidak melakukan uji coba pada manusia di China karena rendahnya infeksi baru.

Sementara itu, pemerintahan Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan seperangkat peraturan imigrasi baru yang akan melarang warga negara dan penduduk tetap sah AS kembali dari luar negeri apabila orang bersangkutan diyakini telah terjangkit virus corona.

Sumber : VOA

Rifan Medan